Kenangan tentang Abah Mukhlas

Bersyukur karena pernah menjadi santrinya, bersyukur karena pernah bertemu secara dekat dengannya. Rasanya rindu sekali dengan Beliau. Sangat merindu… Beliau adalah guru yang sangat hebat dan sangat kaya akan ilmu.

Menjadi seseorang yang sangat berjasa bagi hidup saya. Memperkenalkan indahnya islam dalam kehidupan sehari-hari. Selalu menghubungkan islam dengan permasalahan sehari hari. Membuat saya selalu rindu akan segala petuahnya. Pembawaan yang sangat kharismatik dan juga berwibawa. Beliau adalah Ayah, Guru dan juga Kyai bagi saya…

Selama pengajian Beliau, santri tidak boleh berisik sendiri. Beliau tidak berkenan jika ada suara yang terdengar selain suara Beliau. Sering sekali ketika pengajian atau pasaran di masjid Beliau mendadak diam atau kemudian menegur santri yang bersuara. Kisah-kisah inspiratif yang sering Beliau ceritakan baik dipengajian maupun di kelas merupakan materi yang saya tunggu-tunggu. Selain pembawaan beliau yang sangat menarik, ibroh dari cerita tersebut selalu disampaikan kepada kami.

Beliau juga sering memberikan motivasi di kelas kami. Karena peminatan yang kami ambil disekolah merupakan pelajaran umum, Beliau selalu memberi kami semangat. Beliau sangat yakin, kami bisa menjadi garda terdepan untuk bisa tetap memberikan sumbangsih dari segi ilmu umum dengan tidak meninggalkan ilmu agama.

Saat Beliau mengajar di kelas kami, Beliau selalu mengatakan, “Ayo saya dipancing dengan pertanyaan.” dan hal itu yang selalu saya tunggu. Walaupun saya malu dan takut untuk bertanya, dan walaupun pertanyaan saya begitu receh. Tetapi Beliau selalu saja menjawab dengan jelas, dan lugas.

Saya selalu teringat dengan pertanyaan saya kepada Beliau, saya bertanya, “Abah, mengapa sebagai manusia saya merasa tidak enak selalu meminta kepada Allah? ” dan Abah langsung menjelaskan bahwa perangai seperti itu adalah ciri-ciri orang yang sombong jika tidak mau meminta kepada Allah. “Allah itu, sangat senang jika dimintai oleh hamba Nya, Allah itu senang.” dawuh Abah.

Dan saya teringat, Beliau menceritakan pertanyaan saya saat pengajian di MasNur. Sembari tertawa dengan gaya yang khas, Beliau menceritakan bahwa ada santrinya yang bertanya amat sangat lucu. Pada saat Abah menceritakan hal tersebut, saya yang saat itu sedang piket di radio langsung tersipu malu, dan tersenyum.. “Ya Allah, Abah masih mengingat pertanyaan saya itu”, gumam saya dalam hati…

Tak hanya di kelas, setelah kami menjadi alumnus pun beliau selalu menyuruh kami untuk bertanya, “Ayo, bertanya.” Dan lagi-lagi, saya sangat senang dengan momen tersebut, karena saya dapat menyampaikan pertanyaan kepada Beliau baik tentang permasalahan di perantauan ataupun tentang pendidikan dan agama.

Sangat kaget mendengar bahwa Beliau telah mendahului kami. Saat membaca sebuah pesan broadcast di grup, saya seketika menangis. Ya Allah, secepat ini saya kehilangan salah satu panutan dalam hidup saya. Kenangan-kenangan Beliau langsung hadir dan membuat saya semakin merindu dengan Beliau. Kini, Beliau telah menyelesaikan tugasnya di bumi. Semoga kami, bisa bertemu dengan Beliau kelak, dan diakui sebagai santrinya.

“Abah, saya masih tidak percaya Bah… Saya ingin sowan dan bertemu dengan Abah lagi. Terima kasih untuk semua yang telah Abah ajarkan kepada kami, terima kasih Abah… ”

source: alhikmahdua.net

Mohon hadiah al fatihah untuk Beliau, Almaghfurlah KH. Mukhlas Hasyim bin Hasyim, Abah yang sangat kami cintai… Al fatihah…
Salam.

Total Views: 4846 ,

Tinggalkan Komentar